Harga Sawit Naik, Panen Anjlok 30 Persen: Kemarau Tekan Produksi Petani Jambi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:46:37 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

JAMBI, IMCNews id – Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi belum menjadi angin segar bagi petani. 

Saat harga bergerak naik, produksi justru anjlok hingga 30 persen akibat kemarau yang berlangsung selama tiga bulan terakhir. Harga membaik, tetapi buah yang dipanen kian sedikit.

Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Jambi, Kasriwandi, mengatakan penurunan produksi paling tajam terjadi pada kebun yang tidak mendapat pemupukan optimal.

 Bahkan, kebun yang dirawat dan dipupuk secara teratur tetap mengalami penurunan produksi sekitar 20 persen.

Kemarau membuat petani berada dalam posisi sulit. Pemupukan belum bisa dilakukan secara maksimal karena kondisi tanah yang kering dan keterbatasan air.

 Akibatnya, petani hanya dapat mengandalkan hasil panen yang tersisa tanpa banyak ruang untuk mendongkrak produktivitas.

“Sekarang petani hanya bisa mengolah dan memanen hasil yang ada,” kata Kasriwandi, yang akrab disapa Iwan.

Di tengah penurunan produksi, ancaman kebakaran turut membayangi. Cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran lahan, sementara kebun sawit menjadi tumpuan ekonomi keluarga petani. 

Sekali kebun terbakar, kerugian tak hanya menggerus aset, tetapi juga mengancam sumber penghidupan dalam jangka panjang.

APKASINDO pun mengintensifkan imbauan agar petani menjaga kebun dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membakar lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan.

“Kami terus melakukan sosialisasi agar petani menjaga kebunnya, tidak menyalakan api di sekitar kebun, dan tidak merokok sembarangan karena percikan api dapat memicu kebakaran,” ujarnya.

Harga TBS Jambi untuk periode 23–29 Oktober 2026 memang meningkat. TBS dari tanaman usia 10–20 tahun ditetapkan Rp3.679,34 per kilogram, naik Rp45,32 dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, kenaikan itu belum cukup menjamin pendapatan petani ikut meningkat. Sebab, harga yang lebih tinggi harus berhadapan dengan volume panen yang menyusut. 

Ketika jumlah tandan berkurang, tambahan nilai jual belum tentu mampu menutup kehilangan hasil dan beban pemeliharaan kebun.

Di tingkat pabrik di wilayah Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, harga dilaporkan sekitar Rp3.115 per kilogram. Sementara itu, harga di tingkat pengepul disebut berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, dengan harga pecah Rp2.865 per kilogram.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa harga penetapan resmi tidak selalu identik dengan harga yang diterima petani di lapangan. Karena itu, kenaikan harga di tingkat penetapan perlu dilihat bersama harga transaksi aktual dan volume produksi.

Berdasarkan umur tanaman, harga TBS ditetapkan Rp3.047,68 per kilogram untuk usia tiga tahun; Rp3.621,36 untuk usia 21 tahun; Rp3.535,94 untuk usia 22 tahun; Rp3.500,77 untuk usia 23 tahun; Rp3.465,06 untuk usia 24 tahun; dan Rp3.424,60 untuk usia 25 tahun.

Sementara itu, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ditetapkan Rp14.690,18 per kilogram. Harga inti sawit (kernel) mencapai Rp11.805,06 per kilogram, dengan indeks K sebesar 93,49 persen.***

 

 

 

 



BERITA BERIKUTNYA