Kemarau sering dianggap sebagai siklus tahunan yang tinggaldilewati. Hujan berkurang, suhu meningkat, kemudian beberapabulan berikutnya musim hujan kembali datang.
Namun, cara pandang seperti itu semakin tidak memadai. Di tengah perubahan pola iklim, kemarau dapat menjadi persoalanpembangunan yang berdampak langsung terhadap masyarakat, pertanian, perkebunan, lingkungan, bahkan perekonomian daerah.
Provinsi Jambi perlu melihat persoalan ini lebih serius, terutamaketika fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) berpotensi memperkuat kondisi kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telahmengingatkan adanya potensi kemarau 2026 yang relatif lebihkering dibandingkan kondisi rata-rata.
Kondisi tersebut semestinyamenjadi peringatan bahwa pengelolaan air tidak boleh bersifatreaktif.
Air harus dipersiapkan sebelum kekurangan terjadi. Dari Persoalan Cuaca Menjadi Persoalan Ekonomi
Ketika hujan berkurang, dampaknya tidak berhenti pada halamanrumah yang kering.
Petani membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman. Perkebunan membutuhkan kelembapan tanah.
Masyarakat membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Industri dan berbagai aktivitas ekonomi juga membutuhkan pasokan air yang stabil.
Jika kemarau berlangsung panjang, biaya untuk mendapatkan dan mendistribusikan air dapat meningkat.
Sektor pertanian juga menghadapi risiko penurunan produktivitasapabila kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi.
Karena itu, kekeringan pada akhirnya dapat berubah menjadipersoalan ekonomi.
Jambi tidak cukup hanya memiliki sumber daya air.
Yang dibutuhkan adalah sistem ketahanan air yang mampumemastikan air tersedia ketika masyarakat dan kegiatanekonomi membutuhkannya.
Batanghari dan Masa Depan Jambi
Sungai Batanghari merupakan salah satu aset penting bagi Jambi.
Namun, sungai harus dilihat sebagai bagian dari sistem hidrologisyang lebih luas.
Kondisi Batanghari dipengaruhi oleh hujan, tutupan lahan, kawasanresapan, anak sungai, air tanah, serta aktivitas manusia di daerahtangkapannya.
Jika daerah tangkapan air terus mengalami perubahan tanpapengendalian, kemampuan wilayah menyimpan air dapatberkurang.
Air hujan lebih cepat mengalir menjadi limpasan ketika musimhujan, sementara cadangan air yang tersimpan di dalam tanahsemakin terbatas ketika musim kemarau.
Akibatnya muncul paradoks:
ketika hujan air berlebih, tetapi ketika kemarau air terasakurang.
Persoalan tersebut menunjukkan pentingnya mengelola air berdasarkan satu kesatuan sistem, bukan berdasarkan batas administratif semata.
Pertanian dan Perkebunan Perlu Beradaptasi
Jambi memiliki sektor pertanian dan perkebunan yang penting bagiperekonomian daerah.
Namun kedua sektor tersebut sangat dipengaruhi kondisi iklim.
Ketika musim kering semakin panjang, tanaman menghadapitekanan akibat berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnyaevaporasi.
Karena itu, strategi adaptasi perlu diperkuat.
Informasi prakiraan iklim harus dimanfaatkan untuk menentukanpola tanam, memilih komoditas atau varietas yang sesuai, sertamengatur penggunaan air.
Di tingkat lapangan, embung, kolam penyimpanan, pemanenan air hujan, dan teknologi irigasi hemat air dapat membantu mengurangiketergantungan terhadap hujan.
Prinsipnya adalah mengubah pendekatan dari menunggukekeringan menjadi mengantisipasi kekeringan.
Gambut: Jangan Sampai Kehilangan Air
Jambi juga memiliki kawasan gambut yang memiliki fungsiekologis penting.
Gambut pada dasarnya merupakan ekosistem yang sangat berkaitandengan air.
Ketika muka air tanah turun terlalu rendah, gambut menjadi lebihkering dan risiko kebakaran meningkat.
Karena itu, pencegahan karhutla tidak dapat hanya dilakukanmelalui patroli dan pemadaman.
Pengelolaan air merupakan bagian dari pencegahankebakaran.
Menjaga muka air gambut, mengelola kanal dengan baik, dan mencegah pengeringan berlebihan merupakan langkah yang jauhlebih strategis daripada hanya menunggu api muncul.
Pembangunan Harus Menghitung Air
Jambi terus berkembang.
Pembangunan permukiman, jalan, kawasan perdagangan, perkebunan, dan infrastruktur lainnya merupakan bagian darikebutuhan daerah.
Namun setiap pembangunan membawa konsekuensi terhadapsistem air.
Lahan yang sebelumnya dapat menyerap air dapat berubah menjadipermukaan kedap.
Air hujan kemudian lebih cepat menjadi limpasan dan meninggalkan kawasan.
Jika kondisi tersebut terjadi secara luas, kemampuan wilayah melakukan pengisian kembali air tanah dapat menurun.
Inilah alasan mengapa tata ruang harus dipandang sebagaibagian dari kebijakan ketahanan air.
Pembangunan tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang akandibangun di atas lahan ini?”
Pertanyaan lainnya harus berbunyi:
“Ke mana air akan pergi setelah pembangunan ini terjadi?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Dari mana air akan tersedia ketika musim kemarau datang?”
Menyimpan Air untuk Masa Depan
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuatpenyimpanan air.
Ketika musim hujan datang, air seharusnya tidak seluruhnyadibuang melalui drainase.
Sebagian perlu ditahan melalui embung, kolam retensi, rawa, ruangterbuka hijau, kawasan resapan, sumur resapan, maupun sistempemanenan air hujan.
Pada skala rumah tangga, air hujan juga dapat dimanfaatkan untukkebutuhan tertentu setelah melalui pengolahan yang sesuai.
Pada skala kawasan, sistem penyimpanan air dapat menjadi bagiandari infrastruktur kota dan desa.
Konsepnya sederhana:
air berlebih saat hujan adalah cadangan untuk menghadapikekurangan saat kemarau.
Saatnya Mengubah Cara Berpikir
El Niño dan IOD tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah daerah.
Namun dampaknya dapat dikurangi.
Pemerintah perlu memperkuat pemantauan sumber air, memetakanwilayah rawan kekeringan, menjaga kawasan resapan, memperbaikitata kelola gambut, dan mengintegrasikan informasi iklim ke dalamkebijakan pertanian.
Setiap pembangunan juga perlu memperhitungkan neraca air dan perubahan limpasan.
Masyarakat dapat berkontribusi melalui penghematan air dan pemanfaatan air hujan.
Yang paling penting adalah mengubah paradigma.
Air bukan sekadar sumber daya yang digunakan ketika tersedia. Air adalah fondasi pembangunan.
Tanpa air yang cukup, pertanian terganggu. Tanpa air, perkebunanmenghadapi tekanan. Tanpa tata air yang baik, gambut rentanterbakar. Dan tanpa ruang yang cukup bagi air, kota dapatmenghadapi banjir sekaligus kekeringan.
Kemarau pada akhirnya akan berlalu.
Namun pelajaran dari kemarau harus tetap tinggal.
Jambi perlu membangun ketahanan air bukan ketika krisis sudahterjadi, tetapi sejak air masih tersedia dan kesempatan untukbersiap masih terbuka. (*)
Penulis adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, InstitutTeknologi Sumatera (ITERA). Memiliki bidang keahlian pada hidrologi dan sumber daya air serta aktif dalam penelitianmengenai pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.
Gebyar Mahardika Untukmu Negeriku Kibarkan Ribuan Bendera Merah Putih
Aparat Didesak Periksa KSOP Terkait Dugaan Mark Up GAR Rugikan Negara Triliunan
Diduga Jaringan “Cuci” Batu Bara Miliaran Beroperasi di Wilayah PKP2B PT SSKB
Kualitas Udara Memburuk, IJTI Jambi dan Adya Group Bagikan Masker Gratis
Ada Apa di TUKS-TUKS Talang Duku? 70 Persen Batu Bara Jambi ke PLN Diduga Lewat Sini