Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen, Airlangga Klaim Lampaui Negara G20

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:58:34 WIB

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

IMCNews.id– Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen kepada Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Airlangga, capaian tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi global dan menjadi yang tertinggi di antara negara-negara G20.

Dalam keterangan resminya pada Jumat (23/10/2026), Airlangga menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di atas 5 persen, didukung kinerja investasi dan penguatan sektor produktif.

“Ekonomi dan stabilitas sektor riil, ini ekonomi kita terus tumbuh di atas 5 persen, yaitu 5,45 persen, di mana ini lebih tinggi dari global rata-rata yang 3 persen. Dan kita di sini tertinggi di G20, Pak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN,” ujar Airlangga.

Selain pertumbuhan ekonomi, Airlangga memaparkan sejumlah indikator yang mencerminkan kondisi sektor riil dan kepercayaan pasar. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur, misalnya, disebut meningkat menjadi 52,4, berada di atas ambang batas 50 yang menandakan ekspansi aktivitas industri.

Ia juga melaporkan indeks keyakinan konsumen mencapai 118,1 dan tingkat pengangguran berada di level 4,65 persen. Sementara itu, rasio Gini tercatat sebesar 0,368, yang menggambarkan tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat.

Di sektor perdagangan, Airlangga menyampaikan indikator surplus perdagangan sebesar 7,25. Namun, satuan dan periode indikator tersebut perlu diperjelas agar angka yang disampaikan dapat dibaca secara tepat.

Pemerintah, menurut Airlangga, terus menjaga disiplin fiskal dan stabilitas sistem keuangan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilaporkan sebesar 1,24 persen. Sementara itu, Bank Indonesia disebut mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen.

Airlangga turut melaporkan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 7,21 persen. Cadangan devisa Indonesia disebut mencapai 146,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan impor selama 6,5 bulan.

Di sektor perbankan, penyaluran kredit tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 10,94 persen. Permodalan perbankan tercatat sebesar 24,10 persen, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 2,11 persen.

Indikator tersebut menjadi bagian dari laporan pemerintah mengenai perkembangan ekonomi, kondisi perbankan, serta upaya menjaga stabilitas keuangan nasional.

Selain melaporkan indikator makroekonomi, pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat.

Di sektor perumahan, pemerintah membahas keberlanjutan fasilitas pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) serta dukungan terhadap kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi.

Pemerintah juga membahas penyesuaian standar kadar emas untuk industri perhiasan, dari 99,99 persen menjadi 99,9 persen, sebagaimana disampaikan dalam laporan Airlangga.

Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung sektor produktif, menjaga aktivitas ekonomi, serta mempertahankan momentum pertumbuhan nasional.

Meski demikian, klaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,45 persen merupakan yang tertinggi di G20 perlu dibaca berdasarkan periode pembanding dan data negara-negara anggota yang tersedia.

Perbandingan tersebut penting untuk memastikan bahwa capaian Indonesia dinilai menggunakan periode dan indikator yang setara. (*)



BERITA BERIKUTNYA