Urgensi Hilirisasi di Tengah Merosotnya Ekspor Jambi

Sabtu, 04 Juli 2026 - 21:23:44 WIB

IMCNews.ID, Jambi – Tren penurunan ekspor Provinsi Jambi di awal tahun 2026 menjadi sinyal kuat bahwa struktur ekonomi daerah ini masih rapuh.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai Jambi terjebak dalam masalah struktural akibat ketergantungan akut pada komoditas primer seperti hasil tambang dan perkebunan yang sangat rentan terhadap guncangan pasar global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat performa ekspor yang terus melorot. Pada Januari 2026, nilai ekspor turun tipis 0,51 persen dibanding Desember 2025.

Memasuki Maret 2026, nilai itu anjloknya makin tajam hingga mencapai 21,61 persen dibanding bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, rapor ekspor periode Januari–Maret 2026 juga masih berada di bawah capaian periode yang sama tahun lalu.

Bagi Noviardi, ini bukan lagi sekadar penurunan musiman (seasonal fluctuation), melainkan cerminan dari rapuhnya fondasi makroekonomi daerah.

“Kalau ekspor turun beruntun dan secara kumulatif lebih rendah dari tahun lalu, artinya fondasi ekspor kita belum memiliki ketahanan (resilience) dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional,” ujar Noviardi Ferzi.

?Secara teoretis, Noviardi menjelaskan bahwa kondisi Jambi merupakan contoh klasik dari fenomena Kutukan Sumber Daya Alam (Resource Curse) dan gejala Dutch Disease.

Daerah yang kaya akan komoditas mentah cenderung abai terhadap pembangunan sektor manufaktur dan jasa yang bernilai tambah tinggi.

Penurunan ekspor pada komoditas andalan Jambi mulai dari bahan bakar mineral (migas dan batu bara), minyak nabati (CPO), pinang, kopi, teh, hingga rempah-rempah membuktikan tingginya sensitivitas ekonomi lokal terhadap hukum permintaan dan penawaran global.

?Noviardi membedakan dampak volatilitas ini ke dalam dua siklus yang tidak sehat bagi stabilitas fiskal daerah.

Pertama, siklus boom saat harga naik, di mana daerah menikmati lonjakan pendapatan sesaat (windfall profit) yang sering kali memicu perilaku konsumtif dan ketergantungan anggaran pada sektor primer.

Kedua, siklus bust saat harga turun, yang membuat ekonomi daerah langsung terkontraksi hebat, kapasitas fiskal menyusut, dan daya beli masyarakat perdesaan anjlok seketika.

?“Selama kita cuma menjual komoditas tanpa sentuhan teknologi, kita akan selalu menjadi pengikut harga (price taker), bukan penentu harga (price maker). Ironisnya, surplus ekonomi terbesar justru diekstraksi oleh daerah atau negara lain yang mengolah komoditas kita menjadi produk industri siap pakai,” tegasnya.

?Melihat situasi kritis ini, Noviardi mendesak Pemerintah Provinsi Jambi untuk segera beralih dari sekadar wacana menuju langkah konkret.

Hilirisasi dan diversifikasi tidak boleh lagi hanya menjadi jargon di dokumen perencanaan, melainkan harus diturunkan ke dalam tiga strategi praktis di lapangan.

?Langkah praktis pertama adalah integrasi hulu-hilir dan pembangunan infrastruktur kawasan industri. Pemerintah daerah harus mempercepat operasionalisasi kawasan industri terintegrasi seperti optimalisasi Kawasan Industri Kemingking atau Ujung Jabung yang dilengkapi dengan fasilitas logistik dan pelabuhan memadai.

Selama ini, biaya logistik yang tinggi menjadi disinsentif utama bagi investor manufaktur untuk masuk ke Jambi.

?Langkah kedua berfokus pada keberpihakan regulasi dan insentif investasi. Jambi perlu melahirkan regulasi lokal yang membatasi pengapalan bahan mentah keluar daerah secara bertahap.

Hal itu harus dibarengi dengan pemberian insentif fiskal daerah seperti kemudahan perizinan, kepastian hukum lahan, dan reduksi retribusi lokal bagi investor yang bersedia membangun pabrik pengolahan CPO turunan, industri karet hilir, maupun processing plant untuk kopi dan pinang.

?Langkah ketiga adalah penguatan kemitraan korporasi dan pemberdayaan petani swadaya. Hilirisasi tidak boleh hanya menguntungkan korporasi besar.

Pemerintah harus menjembatani kemitraan antara pabrik pengolahan dengan koperasi peternak atau petani swadaya agar ada standardisasi mutu produk sejak dari lahan. Dengan begitu, posisi tawar petani lokal meningkat dan rantai pasok industri menjadi lebih stabil.

?Noviardi menekankan bahwa target pembangunan ekonomi Jambi harus segera diredefinisi. Indikator keberhasilan tidak boleh lagi diukur semata-mata dari besarnya volume atau kuantitas ekspor mentah yang berhasil dikapalkan.

?Fokus utama sekarang adalah meningkatkan kualitas ekspor melalui produk bernilai tambah (value-added products).

“Hanya dengan cara ini ketahanan ekonomi daerah bisa diperkuat, lapangan kerja sektor manufaktur yang berkualitas bisa tercipta, dan kontribusi riil terhadap pendapatan masyarakat bawah dapat terjaga,” jelasnya.

?Jambi memiliki modal sumber daya yang melimpah, namun tanpa adanya keberanian melakukan lompatan ke industri manufaktur berbasis komoditas lokal, daerah ini akan terus terjebak dalam siklus yang sama.

“Sudah saatnya Jambi keluar dari zona nyaman ekspor komoditas mentah. Diversifikasi dan hilirisasi praktis adalah kebutuhan mendesak agar ekonomi kita tidak terus-menerus didikte oleh ketidakpastian global,” pungkasnya.



BERITA BERIKUTNYA