Kamu Wajib Tahu, Jangan Lakukan Kebiasaan Ini Jika Tak Ingin Tabungan Disedot Penipu Secara Online

Minggu, 03 Desember 2023 - 09:36:33 WIB

IMCNews.ID, Jambi - Jika tak mau saldo tabungan kamu di rekening terkuras oleh ulah pelaku penipuan secara online, ada beberapa hal kebiasaan yang jangan terus dilakukan.

Hal itu diungkap oleh Ketua Tim Insiden Siber Sektor Keuangan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sandromedo Christa Nugroho.

Suka memamerkan aktivitas di media sosial ternyata lebih rentan menjadi korban penipuan online. Tak jarang, penjahat siber mengincar data pribadi sensitif yang bisa membobol rekening korban hingga ludes.

"Yang sekarang Gen Z suka banget update (media sosial). Lagi makan update, lagi di mana update. Sebenarnya memancing serangan untuk bisa mem-profiling seseorang dengan mudah," katanya dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (3/12/2023).

Pelaku dapat mendeteksi nama korban dan kemudian mencari tahu media sosialnya, misalnya ke Facebook dan dari sana bisa diketahui data keluarganya.

"Contohnya ketemu akun yang pertama saya lihat dari namanya dulu. Itu bisa profiling media sosialnya, kerjaannya. Dari Facebook bisa ke family ya, keluarganya siapa, ayahnya siapa, sampai bisa dapat alamatnya. Biasanya akan melakukan attack, dari penipuan online," jelasnya.

Pelaku akan melakukan profiling korban sedemikian rupa. Jadi serangan yang diberikan akan berhasil dan tidak menjadi useless.

Sandromedo juga menjelaskan laporan serangan siber terus menerus juga mengalami peningkatan. Misalnya dari 2020 ke 2021 kenaikannya mencapai 230 persenm

"Ini menandakan sebenarnya kita sedang masuk ke transformasi digital. Tapi tidak dilengkapi dengan literasi digital yang baik," ungkapnya.

Dia mengatakan ada beberapa jenis serangan siber. Termasuk salah satunya yang menggunakan sisi humanis dan psikologi dari korbannya.

Di sisi lain, VP Public Relations Blibli, Yolanda Nainggolan menjelaskan kebanyakan serangan berasal dari kesalahan individu itu sendiri. Dia mengutipnya dari laporan World Economic Forum 2022.

"Menunjukkan bahwa 95 persen masalah keamanan siber ada dari sisi orang," katanya. (*)



BERITA BERIKUTNYA