PUPR Anggarkan Biaya Pembangunan Jembatan Putus Rp 12 Miliar

Sabtu, 12 Maret 2022 - 17:33:10 WIB

IMCNews.ID, Cianjur - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Cianjur, Jawa Barat, menganggarkan biaya pembangunan jembatan yang putus di sejumlah kecamatan di Cianjur, sebesar Rp12 miliar termasuk pembangunan jembatan Leuwi Keris di Kecamatan Campakamulya yang putus beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas PUPR Cianjur, Eri Rihandiar saat dihubungi, mengatakan segera membangun kembali jembatan Leuwi Keris di Desa Cibanggala yang merupakan akses utama warga untuk beraktivitas mulai dari perekonomian, pendidikan dan kesehatan dengan alokasi anggaran Rp1,2 miliar.

"Kita sudah anggarkan biaya Rp12 miliar dari APBD 2022, untuk pembangunan kembali 13 jembatan permanen yang putus akibat bencana alam. Untuk Jembatan Leuwi Keris anggaran yang disiapkan Rp1,2 miliar, harapan kami pembangunan jembatan permanen yang putus dapat berjalan tahun ini," kata Eri Rihandiar, pada Sabtu (12/3).

Tidak hanya perbaikan jembatan permanen, Pemkab Cianjur, telah mengajukan anggaran ke pemerintah pusat untuk perbaikan 18 jembatan gantung yang putus akibat dimakan usia dan diterjang derasnya air sungai sepanjang tahun 2022 karena terbatasnya APBD Cianjur.

"Kita upayakan dapat terealisasi tahun ini karena sebagian besar merupakan akses penghubung utama antar desa dan kecamatan, untuk tambahan anggaran kami juga mengajukan ke provinsi dan pusat," katanya.

Sementara jembatan Leuwi Keris yang putus akibat dihantam derasnya arus sungai, sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu, membuat aktifitas warga terutama perekonomian terhambat, sehingga anggota DPRD Cianjur, dari Fraksi Golkar mendatangi lokasi.

Anggota DPRD Cianjur, Usep Saepuloh Zen, mengatakan putusnya jembatan tersebut membuat warga Desa Cibanggala terisolir tidak dapat beraktifitas seperti biasa, sehingga mereka berharap pembangunan dapat segera dilakukan karena saat ini untuk melintas mereka terpaksa menggunakan jembatan darurat.
"Jembatan Leuwi Keris merupakan akses utama penunjang aktivitas warga terutama perekonomian. Saat ini untuk membawa hasil bumi, mereka terpaksa harus memikul dan berjalan sejauh setengah kilometer sebelum sampai ke jalan utama," katanya. (IMC02/ant)



BERITA BERIKUTNYA