IMCNews.ID, Jakarta - Indonesia bisa saja berhenti menggunakan energi batu bara untuk pembangkit tenaga listrik pada 2040 mendatang.
Rencana itu untuk mencapai target nol emosi karbon pada 2060 bahkan lebih cepat. Diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, target Indonesia menghentikan penggunaan batu bara adalah pada 2056, namun bisa saja dimajukan jadi 2040.
Menurut Sri Mulyani, keputusan itu harus dilakukan agar mendapat bantuan keuangan dari Internasional.
"Kalau kita mau maju sampai 2040, maka kita perlu dana untuk pensiunkan batu bara lebih awal dan untuk membangun kapasitas baru energi terbarukan," kata Sri Mulyani, dilansir dari detik.com yang mengutip Reuters, Rabu (3/11/2021).
"Sekarang sebagai menteri keuangan menghitung apa artinya pensiun batu bara lebih awal. Berapa biaya kita?" lanjutnya.
Dia membeberkan anggaran yang diperlukan untuk menghentikan energi batu bara untuk listrik. Misalkan Jakarta diidentifikasi ada 5,5 gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara yang dapat dipensiunkan lebih awal dalam 8 tahun ke depan.
Diperkirakan akan menelan biaya US$ 25 miliar hingga US$ 30 miliar setara Rp 354,6 triliun dan Rp 425,5 triliun (kurs Rp 14.186).
Sementara untuk menekan biaya listrik tetap terjangkau meski menggunakan energi terbarukan, menurut perhitungan sementara Indonesia membutuhkan US$ 10 miliar hingga U$ 23 miliar. Uang itu untuk subsidi proyek pembangkit tenaga listrik terbarukan hingga 2030.
"Jika ini semua seharusnya dibiayai dari uang pembayar pajak saya, itu tidak akan berhasil. Dunia bertanya kepada kita, jadi sekarang pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan dunia untuk membantu Indonesia," tuturnya. (IMC01)
Tingkatkan Kewaspadaan, PEP Jambi Bekali Warga Bajubang Hadapi Risiko Kebakaran
Komisi XII DPR RI Agendakan Investigasi Lapangan Soal Pemasangan Pipa Gas Jadestone
MPW PP Jambi Minta Komisi XII Panggil Jadestone Soal Pemasangan Pipa Gas
Wajah Ganda Ekonomi Merangin, Statistik Membaik, Struktur Tertinggal
Ivan Wirata Soroti Efek Domino Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi
Hadapi Kemarau Ekstrem Tahun Ini, Ratusan Sumur Bor BRGM Harus Dievaluasi