IMCNews.ID, Jambi - Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat dirasakan dan mengganggu berbagai aspek.
Dari aspek ekonomi dan bisnis, kondisi kabut asap akibat Karhutla ini telah mengganggu sejumlah penerbangan dari maupun menuju Provinsi Jambi di Bandara Sultan Thaha Jambi.
Dari segi kesehatan, banyak warga yang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Sementara dari segi pendidikan, siswa sangat dirugikan karena tak bisa melakukan aktifitas belajar di sekolah. Mereka terpaksa diliburkan karena udara yang berbahaya.
Laporan satgas Karhutla pada Rabu (7/10/0226) kemarin, kualitas udara sejumlah daerah dalam kondisi berbahaya. ISPU Kota Jambi berada pada angka 354 atau kategori Berbahaya.
Kemudian Muaro Jambi 341 yang juga Berbahaya serta Tebo di angka 305 yang juga Berbahaya. Sementara Tanjung Jabung Timur berada di angka 213 atau Sangat Tidak Sehat.
“Karhutla harus ditangani sebagai satu rangkaian. Kita membutuhkan Fire Response, Smoke Response dan Health Response secara bersamaan. Ketika kualitas udara masih Berbahaya, perlindungan masyarakat harus menjadi bagian dari operasi,” kata Ivan Wirata, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi.
Menurut Ivan, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, masyarakat dengan gangguan pernapasan.
Selain itu juga kepada pekerja luar ruang serta masyarakat yang berada dekat lokasi kebakaran, sesuai protokol kesehatan dan kewenangan instansi terkait.
Secara kumulatif angka hotspot sudah mencapai 12.525 titik dengan luasan yang terbakar mencapai lebih kurang 4.285,67 hektare.
“Kondisi hari ini memperlihatkan mengapa Jambi harus mempunyai ground force yang kuat. Ketika visibility membatasi penerbangan, operasi di darat tidak boleh berhenti. Hotspot tetap harus diverifikasi, fire spot harus segera ditangani, api dikunci, kemudian dilakukan pendinginan dan mop-up sampai benar-benar terkendali,” katanya.
Masalah lain, pesawat PK-ALA, helikopter patroli PK-WSA serta helikopter water bombing RA-22840 dan N-274TH tercatat tidak terbang karena low visibility. Helikopter VN-8414 tercatat unserviceable karena pemeliharaan, sementara Super Puma H3216 tercatat tidak terbang namun dalam kondisi serviceable.
Menurut Ivan, situasi seperti ini harus sudah mempunyai skenario operasi alternatif.
“Air support tetap penting. Tetapi dukungan udara harus menjadi penguat, bukan satu-satunya tumpuan. Ketika helikopter tidak bisa terbang, Satgas harus otomatis masuk ke Ground Operation Mode dengan kekuatan personel, kendaraan, pompa, suplai air, akses lapangan dan posko yang siap bekerja,” jelasnya.
Ivan menyampaikan, berdasarkan data estimasi luas lahan terbakar, Batang Hari paling luas mencapai 1.306,81 hektare.
Berikutnya Tanjung Jabung Barat 666,45 hektare, Tanjung Jabung Timur 659,18 hektare, Muaro Jambi 626,87 hektare, Sarolangun 508,55 hektare dan Tebo 403,76 hektare.
Sementara berdasarkan hotspot kumulatif, konsentrasi terbesar berada di Tanjung Jabung Timur 2.582 titik, Sarolangun 2.163, Tebo 1.891, Tanjung Jabung Barat 1.590, Muaro Jambi 1.586 dan Batanghari 1.451 titik.
“Kita tidak bisa hanya membagi alat secara rata. Penempatan personel dan peralatan harus mengikuti risiko: konsentrasi hotspot, luas terbakar, karakter gambut, akses sumber air, dampak asap dan nilai ekologis kawasan,” imbuhnya. (*)
Udara Sejumlah Daerah di Jambi Dalam Level Berbahaya Dampak Karhutla
Barantin dan Pemprov Jambi Kembangkan Kampung Pangan Terpadu di Buluran Kenali
Buka Rapat Timpora Tingkat Provinsi Jambi, Wagub Sani: Perketat Pengawasan Orang Asing
MK Putuskan Gugatan Soal Ijazah Gibran Tak Dapat Diterima, Tapi…
Satgas Kerahkan Waterbombing dan Alat Berat Atasi Karhutla Tahura Orang Kayo Hitam
Program Pemutihan Pajak Kendaraan Diperpanjang Sampai Akhir Tahun