Anak SAD Berhak Dapat Pendidikan Sejak Dini

Kamis, 04 September 2025 - 10:05:00 WIB

IMCNews.ID, Jambi - Bunda PAUD Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, menyatakan bahwa anak-anak dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) berhak mendapatkan pendidikan sejak dini.

“Pendidikan adalah hak untuk semua,” tegasnya saat Podcast PAUD Inklusif untuk Suku Anak Dalam dengan tema “Meretas Jalan Masa Depan”, Selasa (2/9/2025) kemarin.

Dia menegaskan, pendidikan anak usia dini tidak hanya penting untuk kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga untuk pembentukan karakter.

Hal ini dibutuhkan agar anak-anak SAD mampu beradaptasi dengan masyarakat luas ketika keluar dari komunitas mereka.

Dianmenekankan pentingnya pendekatan inklusif dengan tetap menghormati adat istiadat SAD.

Kehadiran waris sebagai penghubung sangat membantu agar interaksi berjalan baik dan selaras dengan kearifan lokal.

Sementara itu, Akademisi sekaligus Aktivis Sobat Eksplorasi Anak Dalam (SEAD), Reny Ayu Wulandari, menegaskan bahwa pendidikan bagi anak-anak SAD merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa disamakan dengan pendidikan umum. Menurutnya, kurikulum dan metode pembelajaran harus menyesuaikan dengan kondisi sosial-budaya komunitas SAD, terutama bagi kelompok yang masih hidup berpindah-pindah (nomaden).

“Relawan sering kali harus membawa tenda sendiri agar kegiatan belajar tetap berjalan, baik ketika anak-anak berada di hutan maupun saat berpindah ke lokasi lain. Hal ini memang menjadi tantangan, tetapi sangat penting untuk memastikan mereka tetap mendapat akses pendidikan,” ujar Reny.

Ia menambahkan bahwa pendidikan inklusif bagi anak-anak SAD harus diarahkan agar bermanfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari.

Jika pendidikan formal masyarakat umum berorientasi pada kuliah dan peningkatan kesejahteraan, maka bagi anak-anak SAD kebutuhan utama adalah kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, serta pembekalan karakter agar tidak mudah dimanfaatkan pihak luar.

Reny juga menjelaskan bahwa Suku Anak Dalam tidak bersifat homogen. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar, Bathin Sembilan yang sudah menetap, serta Orang Rimba yang masih hidup sebagai hunter-gatherer atau pemburu-peramu.

“Orang Rimba masih berpindah-pindah, tinggal di sudung sederhana yang mudah dibongkar pasang, dan hidup dari hasil berburu serta meramu. Karena itu, pendekatan pendidikan bagi mereka harus lebih fleksibel,” terangnya.

Melalui SEAD, lanjut Reny, sejumlah program pendidikan telah dijalankan di desa binaan. Beberapa anak SAD berhasil mengikuti jalur pendidikan nonformal, mulai dari Paket A (setara SD) hingga tingkat SMP.

Ada yang berkeinginan melanjutkan ke SMA, meskipun sebagian berhenti karena faktor budaya, seperti pernikahan usia muda.

“Memang ada tantangan dalam mendampingi mereka, karena tidak mudah mengintervensi budaya yang sudah mengakar. Namun yang terpenting adalah bagaimana pendidikan tetap berjalan, dengan menghargai tradisi mereka sekaligus membuka ruang bagi masa depan yang lebih baik,” pungkas Reny.



BERITA BERIKUTNYA