IMCNews.ID, Jakarta - Perusahaan asal China menandatangani perjanjian kerja sama pembuatan feasibility study proyek coal to methanol antara PT Powerindo Cipta Energy dan China National Chemical Engineering Corporation di Kemenperin, Senin 18 Oktober 2021.
Nilai investasinya mencapai USD560 juta atau setara Rp7,91 triliun (kurs Rp14.127 per USD) untuk membangun pabrik metanol di Aceh.
Pabrik ini rencananya akan didirkan di Meulaboh, Aceh, dengan lokasi di mulut tambang pemasok batu bara. Pabrik itu akan mengolah 1,1 juta ton batu bara menjadi 600 ribu ton metanol per tahun.
“Proyek ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 600-700 orang. Berdasarkan perencanaan, proyek akan memasuki tahap konstruksi pada pertengahan tahun 2022,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (19/10/2021).
Dia mendorong pendirian industri pionir coal to methanol untuk mendukung hilirisasi batu bara di Indonesia.
Industri metanol merupakan salah satu sektor prioritas yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan industri di hilirnya.
Dengan kebutuhan metanol mencapai 1,2 juta ton pada 2020, pembangunan industri gasifikasi coal to methanol diharapkan dapat berkontribusi pada substitusi impor dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kerja sama pembangunan pabrik coal to methanol sangat penting bagi sektor industri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sangat mengapresiasi perusahaan yang memiliki satu visi untuk menginisiasi proyek gasifikasi batu bara dan mendukung rencana investasi industri pionir ini,” kata Menperin.
MoU itu memiliki kontribusi yang penting dalam upaya membangun hilirisasi industri. Penguatan hilirisasi industri setidaknya memberi lima manfaat besar bagi perekonomian.
Pertama, memperkuat daya saing produk hasil hilirisasi yang dapat meningkatkan ekspor, menjadi bagian dari supply chain global, serta mendorong subtitusi impor.
Berikutnya, meningkatkan penciptaan lapangan kerja. Ketiga, sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai tambah industri di dalam negeri, yang akan memperbesar kontribusi bagi perekonomian.
Keempat, hilirisasi akan mengakselerasi transfer teknologi di Indonesia.
"Selanjutnya, hilirisasi dapat meningkatkan subtitusi impor yang akan menekan defisit neraca perdagangan,” ujar Menperin.
Pada tahun 2020 nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia mencapai USD11,85 miliar, sedangkan nilai impornya mencapai USD18,25 miliar.
Dengan demikian ada defisit sebesar USD6,4 miliar. Karena itu, kata dia, perlu upaya untuk mempercepat peningkatan investasi di sektor kimia.
Industri kimia, termasuk di dalamnya industri metanol, merupakan salah satu sektor prioritas dalam peta Jalan Making Indonesia 4.0, sehingga Kemenperin secara serius berupaya memperkokoh struktur industri ini.
Industri metanol menempati posisi penting di industri hilir karena merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood dan industri lainnya. Metanol juga digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan biodiesel. Selain itu juga bisa diolah lebih lanjut menjadi DME yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Dengan berkembangnya industri hilir pengguna metanol, nilai substitusi impor dari metanol akan semakin besar. (*)
Berulang Kali Ingkar Janji, Oknum Kadus Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Emas
Gubernur Al Haris Lepas Tim DBL Jambi, Siap Harumkan Nama Daerah di Ajang Nasional
Sekda Provinsi Sudirman Ditetapkan Sebagai Komisaris Utama Bank Jambi Dalam RUPS-LB
Polda Jambi Dalami Dugaan Keterlibatan Tiga Anggota Dalam Kasus Rudapaksa
Minyak Menguat Dekati Tertinggi Multi-Tahun, Krisis Energi Berlanjut