Politik

PAN Terbelah, Antara Gabung Jokowi Atau Oposisi

Jul 3, 2019 02:04
Amin Rais (kiri) duduk berdampingan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kanan). (ist)
Amin Rais (kiri) duduk berdampingan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kanan). (ist)

IMCNews.ID, Jakarta - PAN terbelah dua, antara bergabung dengan Pemerintah, atau tetap berada dibarisan Oposisi bersama Gerindra dan PKS. Perbedaan padangan ini terjadi antara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan berserta pengikutnya dan Amin Rais bersama loyalisnya.

Dikutip dari detiknews, Waketum PAN Viva Yoga Mauladi menyebut mayoritas pengurus wilayah partai lebih menginginkan bersama-sama di pemerintahan Jokowi untuk lima tahun ke depan. Anggota Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo menyangsikan pernyataan Yoga tersebut. 

"Saya sangat menyangsikan pernyataan tersebut karena, jika bertemu secara pribadi, banyak pimpinan DPW yang sejujurnya lebih senang PAN konsisten di luar pemerintahan. Untuk DPD di kota dan kabupaten, malah lebih banyak lagi yang bersikap seperti itu," kata Dradjad Wibowo ketika dikonfirmasi, Rabu (3/7/2019).

Dradjad, yang juga orang dekat Amien Rais itu menegaskan keraguannya atas keterangan Viva Yoga. Dia mengaku malu dengan pernyataan-pernyataan dari sejumlah pengurus DPP yang bernada merapat ke pemerintah Jokowi.

"Salah satu alasannya, mereka tidak sanggup menatap wajah pemilih di daerah jika ditanya mengapa PAN politiknya zig-zag. Mereka khawatir pemilih marah. Saya malu sebenarnya dengan kengototan sebagian pengurus DPP PAN masuk koalisi Pak Jokowi. Malunya tiga kali lipat," ucap Dradjad.

Dradjad mengaku malu karena, kata dia, sebenarnya banyak kalangan dari koalisi Jokowi yang menolak PAN masuk pemerintahan. "Di koalisi tersebut kan banyak sekali kawan-kawan saya. Mereka bercerita apa adanya karena mereka sepakat dengan sikap saya, yaitu PAN sebaiknya tetap di luar. Kasarnya, PAN tidak mereka inginkan bergabung. Malu kan kalau masih ngotot mau masuk," sebut Dradjad. 

Dradjad juga malu karena menurutnya, PAN tampak sekali sebagai parpol yang tidak konsisten dan itu menurutnya tidak disukai rakyat. Buah dari ketidaksukaan rakyat terhadap sikap inkonsisten PAN disebutnya sudah tampak dari hasil Pileg 2019, di mana perolehan suara dan kursi PAN di DPR menurutnya merosot. Ini, kata dia, karena PAN dianggap tidak konsisten selama 2014-2019. 

"Ketiga, malu kepada pemilih PAN dalam Pileg 2019. Suara dan kursi PAN banyak disumbang dari provinsi di mana Prabowo-Sandi menang, seperti di Sumatera dan Jabar. Bisa-bisa mereka nanti tidak percaya lagi kepada PAN," jelas dia.

"Berpolitik itu perlu konsisten. Saya berharap nanti PAN sebagai organisasi akan menjadi parpol yang benar-benar konsisten. Sesuai dengan kata Amanat di dalam nama PAN," imbuh Dradjad.

Sebelumnya, Viva Yoga menyebut Ketum PAN Zulkifli Hasan dan sekitar 30 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN bertemu di rumah dinas Ketua MPR Zulkifli di Kompleks Widya Chandra, Senayan, pada 27 Juni dan 30 Juni. Diskusi informal itu merupakan pertemuan sebelum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN yang direncanakan diselenggarakan pada akhir Juli atau awal Agustus nanti. 

Agenda diskusi di rumah dinas Ketua MPR itu adalah mengevaluasi Pemilu 2019 dan membahas soal sikap PAN usai keputusan MK yang menolak semua gugatan hasil Pilpres 2019 yang diajukan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, pasangan capres-cawapres yang telah didukung PAN dan menurut Viva, diskusi itu menghasilkan empat hal.

Pertama, mayoritas sepakat PAN harus berbenah diri. Kedua, partai berlambang matahari ini perlu berkonsolidasi. Ketiga, mendampingi masyarakat. Keempat, bersama pemerintahan Jokowi. (IMC02/ant)


Loading...