Hukum

Dipimpin Muslim, Berikut Latar Belakang SMB dan Konflik yang Diduga Dibuatnya

Jul 19, 2019 04:15
Senjata api rakitan yang disita tim gabungan dari kelompok SMB. (Rano/IMCNews.ID)
Senjata api rakitan yang disita tim gabungan dari kelompok SMB. (Rano/IMCNews.ID)

IMCNews.ID, Jambi - Dari ratusan anggota Serikat Mandiri Batanghari (SMB) tim gabungan Polda Jambi, TNI, dan Pemprov Jambi menangkap 45 orang anggota SMB pasca penyerangan dan penganiayaan terhadap anggota Satgas Karhutla. 

Dari 45 tersebut, 41 orang di antaranya laki-laki dan 4 lainnya merupakan perempuan. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak kepolisian menetapkan 20 orang di antaranya sebagai tersangka. Sementara sisanya masih dalam proses penyelidikan. 

Untuk diketahui, kelompok SMB ini muncul pertama kali pada awal April tahun 2018 dan dipimpin oleh seorang pria bernama Muslim. Muslim sendiri merupakan kelahiran Lampung. 

Dia diduga mengumpulkan dan memprovokasi masyarakat hingga bergabung dengan SMB untuk kemudian menduduki lahan di areal distrik IV, Desa Sengkati Baru, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari. 

Informasi dari Direskrimum Polda Jambi, Edi Faryadi, Muslim menjanjikan masing-masing anggotanya lahan seluas 3,5 haktare dengan harga yang ditawarkan beragam namun murah. 

"Setor uang, macam-macam tidak sama satu sama lain. Ada satu juta, dua juta dan lainya untuk 3,5 hektare lahan," ujar Direskrimum. 

 

Siapa Muslim dan SMB, Lantas Apa dan Bagaimana Awal Kemunculannya? 

Tidak ada yang tahu pasti dari mana Muslim, pimpinan kelompok SMB, berasal atau latar belakangnya. Yang diketahui, Muslim ini lahir di Lampung. 

Kemunculan SMB pertama kali ketika dirinya dan ratusan anggotanya mengklaim lahan di lokasi WKS di Distrik IV, Mersam pada awal April 2018. Dimana Muslim mengklaim bahwa lahan tersebut adalah haknya dari program Trans Swakarsa Mandiri (TMS). Padahal Program TMS sendiri sudah berakhir sejak tahun 1994. 

Muslim mengklaim lahan tersebut warisan dari kelompok Indo Tani. Dan dirinya sebagai penerusnya serta anggota lainya merasa berhak mengelola lahan tersebut. Muslim menegaskan siap bersengketa dengan PT WKS, pemegang izin pengelolaan lahan kerja sama dengan lima koperasi di Batanghari. 

Kelompok SMB sendiri tidak pernah terdaftar secara resmi di Kesbangpol Batanghari. Namun pada 27 April 2018 SMB pernah melaporkan kelompoknya dengan nomor laporan 220/441. Hanya saja, SMB tidak melengkapi bahan-bahan lainya hingga pihak Kesbangpol Batanghari tidak mengeluarkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Pada 10 Juni, 2018 SMB menduduki lahan di areal distrik IV dengan mendirikan ribuan pondok. Bahkan pada 20 Juni 2018, SMB membakar salah satu POS WKS. Hingga dua anggotanya ditahan Polres Batanghari. 

Pada 20 September masih di 2018, ratusan anggota SMB bersama pimpinannya Muslim mengepung Polres Batanghari. Mereka meminta pihak kepolisian membebaskan dua orang anggotanya. Saat itu, dihadapan awak media, Muslim mengaku tidak tahu apa alasan anggotanya ditangkap. 

"Kami cuma minta teman kami dibebaskan. Kami tidak tahu apa masalahnya hingga teman kami ditangkap," ujar Muslim saat itu. 

Sempat tenang, meski tidak ada penyelesaian yang berhasil dilakukan oleh Timdu Kabupaten Batanghari dan Pemprov Jambi. SMB kembali membuat heboh publik Jambi belum lama ini ketika menganiaya anggota koperasi pemegang izin pengelolaan lahan di areal distrik IV WKS tersebut. 

Ketua Tim terpadu konflik sosial Kesbangpol Provinsi Jambi Sigit mengatakan, usaha penyelesaian sudah sering dilakukan oleh pihaknya. Namun memang seolah tak ada niat baik dari kelompok SMB ini. 

"Total sudah 26 kali kami, baik dari pihak Pemkab Batanghari hingga Provinsi mengundang SMB ini untuk rapat dan koordinasi namun hanya sekali mereka pernah hadir. Itupun yang datang bukan pimpinannya. Mereka ini bahkan tidak mau memberikan KTP-nya saat itu untuk kami data," ujar Sigit.

Puncaknya, adalah ketika SMB menyerang petugas Satgas Karhutla yang tengah berusaha memadamkan kebakaran lahan. Lahan yang terbakar sendiri ternyata sengaja dibakar oleh anggota SMB tersebut. 

Kapolda Jambi dalam konferensi persnya menegaskan, bahwa pihaknya dan segenap stakeholder Provinsi Jambi telah berupaya untuk menyelesaikan permasalah dengan preventif sejak awal. Namun apa yang dilakukan SMB sudah kriminal. 

Apalagi hingga dengan sengaja mereka membakar lahan bahkan menyerang petugas yang berusaha memadamkannya. 

"Sebagai pimpinan saya harus mengambil keputusan dan langkah apa yang harus diambil. Setelah mendapat laporan penyerangan Satgas Karhutla saya memutuskan untuk mengambil tindakan. Proses penangkapan ini tidak mudah, dua anggota kami terluka kena sabetan parang," ujar Kapolda. 

Bahkan, lanjut Kapolda, rute menuju basecamp kelompok SMB tidak mudah. Camp tersebut berada ditengah hutan, dan sulit dijangkau kendaraan. 

"Jalanya panjang dan berkelok-kelok, saya kalau ditinggalkan disana disuruh keluar sendiri pasti tersesat saya. Tentu bukan perkara mudah bagi kami untuk menghadapi mereka yang sudah tahu medan. Bahkan mereka memiliki senjata api rakitan," jelas Kapolda.

Masih dikatakan Kapolda, kelompok SMB hanya berlindung dibalik nama SAD. Padahal, mereka bukan SAD. Hampir 90 persen anggota SMB bukan dari Jambi melainkan dari luar daerah. 

"Ada dari NTT, Lampung, Medan, jadi memang bukan warga Batanghari. Warga asli Batanghari yang di desa sekitaran basecamp mereka cenderung takut dan memilih menjauh dari mareka," ujar Kapolda. 

Sejauh ini pihak kepolisian dan TNI masih berusaha mengejar sisa anggota SMB yang ada. Bahkan, pihak kepolisian juga akan menyelidiki dari mana pendanaan mereka. 

"Senjata mereka ini, salah satunya ada jenis senjata api berat. Meski rakitan, tapi amunisi yang digunakan asli, peluru tajam. Jadj kita akan cari juga latar belakangnya, siapa dibaliknya," ujar Kapolda. (IMC02/IMC01) 


Loading...